Selasa, 11 Juni 2013

Karya Ilmiah Bahasa Indonesia

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI UNTUK MENGURANGI STRES
 PADA SISWA KELAS X SMA N 1 GALANG


KARYA TULIS ILMIAH
Ditulis Guna Memenuhi Tugas Praktik Bahasa dan Sastra Indonesia.

OLEH :
*Nursari Sipayung
 *Rosinta Natalia

Kelas : IX IPA-3







SMA NEGERI 1 GALANG
JL.Besar Komplek Galinda Telp(061)7981645 Galang-20



LEMBAR PENGESAHAN

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI UNTUK MENGURANGI STRES
 PADA SISWA KELAS X SMA N 1 GALANG
Tahun 2012/2013

Diajukan untuk memenuhi Tugas Praktek Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia
Nama :
Nursari Sipayung
Rosinta Natalia


Guru Bidang Studi                                                                             Galang,       Mei  2013

         Dra. JAMILAH.S.Pd.                                                                                        TIM PENULIS
      NIP : 19691202 2007 01 2023


Diketahui Oleh :
Kepala SMAN 1 GALANG


Drs. Pommer Simbolon
NIP : 19620515 1989 03 1022


I
         KATA PENGANTAR
Terlebih dahulu penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini tepat waktunya, guna memenuhi program pembelajaran bidang studi Bahasa Indonesia yang berjudul PEMBELAJARAN MENULIS PUISI UNTUK MENGURANGI STRES PADA SISWA KELAS X SMA N 1 GALANG
Dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak yang senantiasa membantu dan mengarahkan penulis. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :
Bapak Drs. Pommer Simbolon kepala sekolah SMAN 1 GALANG, beserta Bapak/Ibu unsur wakil kepala sekolah yang telah memberikan dukungan dalam penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini.
Ibu Dra. Jamilah S.Pd. selaku guru bidang studi Bahasa Indonesia dan juga sebagai guru Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk mengarahkan penulis dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.
Bapak/Ibu guru yang telah mendidik, membimbing, dan mengajar penulis yang tidak pernah lelah mentransfer ilmunya.
Secara khusus ucapan terimakasih penulis persembahkan kepada Ayahanda, Ibunda, Kakanda, dan seluruh keluarga yang telah senantiasa mendukung, memotivasi, dan memberikan bantuan moral dan spiritual kepada enulis dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Teman-teman penulis dan seluruh siswa SMAN 1 GALANG yang telah membantu dan mendukung penulis dalam mengumpulkan data.
Tidak ada gading yang tak retak dan tidak ada manusia yang sempurna, semua pasti punya khilaf dan salah. Penulis juga menyadari masih banyak kekurangan dari bentuk yang sempurna. Dengan segala kerendahan hati, penulis memohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan yang terdapat pada Karya Tulis Ilmiah ini.
  II Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN..........................................................................I
PRAKATA...................................................................................................II
DAFTAR ISI................................................................................................III
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang......................................................................................1
B.     Rumusan Masalah................................................................................2
C.     Tujuan Penulisan..................................................................................3
D.    Manfaat Penulisan.................................................................................3
E.     Penegasan Istilah..................................................................................3
F.      Sistematika Penulisan..........................................................................4
BAB II LANDASAN TEORI
A.    Definisi Puisi.........................................................................................5
B.     Prinsip Dasar Pembelajaran Menulis Puisi..........................................5
C.     Definisi Stres........................................................................................12
D.    Faktor Penyebab Stres dan Cara Mengatasinya pada Siswa.................12
E.     Akibat dari Stres...................................................................................14
BAB III METODE PENELITIAN
Metode..............................................................................................15
BAB IV PEMBAHASAN
A.    Hubungan Pembelajaran Menulis Puisi dengan Mengurangi Stres pada Siswa kelas X SMA N 1 GALANG…………………………………………………………16
B.     Pembelajaran Menulis Puisi untuk Mengurangi Stres pada Siswa kelas X SMA N 1 GALANG…………………………………………………………………………16
BAB V PENUTUP
A. Simpulan…………………………………………………………………18
B. Saran……………………………………………………………………..18

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………19


















III

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Adapun yang melatar belakangi penulis dalam memilih judul “Pembelajaran Menulis Puisi untuk Mengurangi Stres Pada Siswa kelas X SMA N 1 GALANG”yaitu melalui pembelajaran menulis puisi dapat mengurangi stres yang sedang diderita siswa. Mengingat sering sekali siswa SMP mengalami stres dan akibat yang ditimbulkan dari stres sangat berbahaya bagi siswa. Bahkan akibatnya siswa menjadi bunuh diri.

Faktor penyebab stres antara lain : suatu tekanan di sekolah atau di keluarga. Misalnya merasa tertekan dengan tugas-tugas yang diberikan guru.Tekanan dapat datang dari dalam, seperti cita-cita yang terlalu tinggi yang kita tetapkan untuk diri pribadi. Sedangkan tekanan dari luar dapat datang dari tuntutan orang tua atau orang-orang di sekitar kita. Semakin besar tekanan yang dirasakan semakin besar kemungkinan ia menderita stres. Penyebab stress yang lain adalah problem yang dialami siswa, kemudian kesedihan yang mendalam juga bisa menyebabkan siswa menjadi stress (Lazarus, R., & Folkman, S. 1984).

Stres ini sagat berbahaya, bisa berakibat Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion), Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana, Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastrointestinal disorder), Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panic, bahkan bisa menimblkan bunuh diri. (Weekes, Claire. 1991).

Stres pada siswa ini sangat perlu diperhatikan dengan seksama dan teliti karena menyangkut psikologi sang anak atau siswa. Dengan pembelajaran menulis puisi disekolah, mampu mengurangi stres pada siswa. Hal ini karena puisi merupakan peluapan spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, bercakal-bakal dari emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian (Tarigan, 1967). Menulis puisi merupakan kegiatan yang mengasyikkan dan menyenangkan. Sumber penulisan yang tidak habis-habisnya adalah pengalaman atau sesuatu yang dialami dan dirasakan pengarang. Sebagai contoh jika siswa sedang mengalami stres karena putus cinta maka
1

akan mudah menuliskannya dalam bentuk puisi karena akan membuat siswa menjadi lega
Melalui pembelajaran menulis puisi pada siswa kela X SMA N 1 GALANG adalah siswa dapat menulis puisi bebas. Siswa dapat mengungkapkan isi hati.  Kalau siswa sedang sepi, sedih, gembira atau apapun-lah, tapi tak ada teman untuk diajak bicara, maka puisi menulis menjadi jalan terbaik. Tumpahkan isi hati lewat untaian kata, lalu menjadikan jadikan senandung yang menentramkan setiap gundah yang dialami siswa.

Bahkan akan menjadi sumber inspirasi, penyejuk hati dan pelipur lara. (Pardjimin : 2004). Kehadiran diksi, majas, rima, imaji, kata nyata dalam cipta puisi sangat penting. Kelima hal tersebut akan mempengaruhi isi dan keindahan puisi. Dalam menentukan kata yang akan digunakan dalam cipta kreatif puisi, penyair mempertimbangkan bunyi yang dihasilkan dari kata tersebut (TIM MGMP Semarang , 2004).

Pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas X SMA N 1 GALANG mampu mengurangi stress yang sedang dialami siswa. Hal ini penulis teliti dari kajian penelitian psikologi sastra dan dari fungsi sastra itu sendiri yang didalamnya puisi merupakan karya sastra. Psikologi sastra yang menyatakan bahwa karya sastra memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Pengarang akan menggunakan cipta, rasa, dan karsa dalam berkarya. Psikilogi sastra pun menilai karya sastra sebagai pantulan kejiwaan yang bias menghibur. Pengarang akan menangkap gejala jiwa kemudian diolah kedalam teks yang dilengkapi dengan kejiwaannya yang trproyeksi dalam imajinasi. (Suwardi, 2005).

Selain itu pembelajaran menulis puisi bisa mengurangi stress karena Lewat menulis puisi memiliki fungsi membantu siswa untuk meluapkan semua perasaan hati, menyampaikan stresnya lewat tulisan, siswa menjadi lega. Sebagai penyemangat di kala sedih, inspirasi kita pula, sebagai kenangan, membuat hati dan otak menjadi refresh untuk jalani langkah selanjutnya. Sehinnga bisa mengurangi stress pada siswa.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam karya tulis ilmiah ini antara lain :
Bagaimana hubungan Pembelajaran Menulis Puisi dengan Mengurangi Stres pada Siswa kelas X SMA N 1GALANG ?
2
Bagaimanakah Pembelajaran Menulis Puisi untuk Mengurangi Stres pada Siawa kelas X SMA 1 GALANG ?

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulis dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini untuk mengetahui :
Hubungan Pembelajaran Menulis Puisi dengan Mengurangi Stres pada Siswa kelas X SMA N 1 GALANG
Pembelajaran Menulis Puisi untuk Mengurangi Stres pada Siawa kelas X SMA N 1 GALANG
Manfaat Penulisan
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :
Manfaat Teoritis
Penulisan karya tulis ini dapat dijadikan pengembangan salah satu teori untuk memberikn informasi tentang pembelajaran menulis puisi untuk mengurangi stres pada siswa SMP kelas VIII semester genap.
Manfaat Praktis
Hasil penulisan ini diharapkan bermanfaat bagi pihak-pihak berikut :
a)      Bagi Guru
Karya tulis ini diharapkan bermanfaat bagi guru untuk memberikan inspirasi kepda guru bahwa pembelajaran menulis puisi dapat mengurangi stres pada siswa SMA
b)      Bagi Siswa
Manfaat bagi siswa yaitu mampu mengurangi stres yang diderita siswa melalui pemebelajaran menulis puisi.
Penegasan Istilah
Puisi : upaya abadi untuk mengekspresikan jiwa sesuatu untuk yang menyebabkannya ada.  Karena bukannya irama tetapi argumen yang membuat iramalah. Mengutarakan pengalamannya yang mempunyai pembendaharaan kata yang lebih kaya. (Blair & Claendler1935).
3

2.      Stres : segala peristiwa/ kejadian baik berupa tuntutan-tuntutan lingkungan maupun tuntutan-tuntutan internal(fisiologis/psikologis) yang menuntut, membebani, atau melebihi kapasitas sumber daya adaptif individu. Lazarus dan Folkman (1984)
Sistematika Penulisan
Secara garis besar karya tulis ini ditulis dengan sistematika sebagai berikut:
Bab 1 pendahuluan yang terdiri atas latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, penegasan istilah, sistematika penulisan.
Bab II landasan teori yang membahas tentang definisi puisi, prinsip dasar pembelajaran menulis puisi, definisi stres, faktor penyebab stres dan cara mengatasinya pada siswa SMA, akibat dari stres.
Bab III metode penelitian yang membahas tentang cara apa yang dilakukan untuk mendapatkan hasil karya tulis ilmiah yang baik
Bab IV analisis dan sintesis berisi tentang hasil analisis dari hubungan pembelajaran menulis puisi dengan mengurangi stres pada siswa SMA dan sintesis dari pembelajaran menulis puisi untuk mengurangi stres pada siswa kelas X SMA N 1 GALANG.
Bab V meliputi simpulan dan saran.










4
BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Definisi Puisi
Menurut Watss Dunton puisi adalah ekspresi dari pengalaman jiwa yang kongkrit yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
Menurut Blair dan Thandler (HG.Tarigan:1984:4) Puisi adalah ekspresi dari pengalaman yang bersifat imaginatif yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan/persyaratan yang bersifat kemasyarakatan yang di utarakan dengan bahasa. Sedangkan menurut Ahdiyat (1986/1987:46) Puisi adalah cipta sastra yang terdiri atas beberapa baris dan baris-baris itu memperlihatkan pertalian makna serta membentuk sebuah bait atau lebih. H.G. Tarigan mengutip pendapat Watts bahwa puisi adalah ekspresi yang kongkret dan bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.
Puisi merupakan upaya abadi untuk mengekspresikan jiwa sesuatu untuk yang menyebabkannya ada.  Karena bukannya irama tetapi argumen yang membuat iramalah. Mengutarakan pengalamannya yang mempunyai pembendaharaan kata yang lebih kaya. (Blair & Claendler1935).
Puisi merupakan peluapan spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, bercakal-bakal dari emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian (Tarigan, 1967).
Puisi : hasil karya sastra yang berisi ungkapan perasaan, kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak dan kadang-kadang dengan kata kiasan. (Andini, 2003).

B.     Prinsip Dasar Pembelajaran Puisi
Prinsip Dasar Pembelajaran Menulis Puisi Pada Siswa kelas X SMA N 1 GALANG perlu membelajarkan :
      Diksi
Diksi adalah pilihan kata. Kata-kata dalam puisi bukanlah kata-kata yang bermakna denotasi, tetapi konotasi atau kias. Kaa-Kata puisi harus menampilkan kesegaran, kekayaan dan kedalaman makna. Perlu menggunakan majas seperti majas pesonifikasi, metafora dan lain-lain.
Contoh : Rumput itu menari-nari diatas penderitaanku
5
 Imaji
Imaji adalah segala yang bersifat imajinasi belaka, khayalan belaka. Menggunakan kata-kata berdasar daya bayang pikiran manusia.  Tidak uraian langsung secara nyata.  Contoh ; Sayap-sayapku telah patah olehmu, Sakitku berlapis-lapis karenamu.                                    
      Kata nyata
Kata nyata adalah uraian kata-kata secara langsung. Bermakna denotasi. Bersifat kongkrit dan khusus bukan kata-kata abstrak dan umum. Contoh : aku telah patah hati, kenapa kau buatku patah hati?
      Rima atau bunyi
Rima atau bunyi adalah persamaan bunyi pada tiap larik puisi. Dibagi menjadi ; sajak, rima awal, rima rengah, rima akir, aliterasi dan asonansi, efoni, kakofoni, enyabemen. (Harjito, 2007).
*Struktur Fisik Puisi
 (1)   Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.
(2)   Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik)
(3)   Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.

6

* Struktur Batin Puisi
Adapun struktur batin puisi akan dijelaskan sebagai berikut:
(1)   Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
(2)   Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
(3)   Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
(4)   Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari  sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
*Jenis Puisi
Menurut zamannya, puisi dibedakan atas puisi lama dan puisi baru.
Puisi Lama
Ciri-ciri puisi lama:
Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Yang termasuk puisi lama adalah:

7
Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka.
Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
Seloka adalah pantun berkait.
Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.

Puisi Baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas:
Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.
Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.
Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.
Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik.
*Gaya Bahasa Puisi
Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
*Jenis-jenis Gaya Bahasa :
8
•         Majas perbandingan
1.      Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
2.      Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.
3.      Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll.
4.      Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll.
5.      Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
6.      Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
7.      Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.
8.      Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
9.      Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
10.  Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
11.  Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
12.  Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
13.  Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
14.  Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
15.  Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.
16.  Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.
17.  Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
9
18.  Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
19.  Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.
20.  Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
21.  Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
22.  Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.
23.  Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
Majas sindiran
1. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.
2. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
3. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).
4. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
5. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.
•         Majas penegasan
1. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.
2. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.
3. Repetisi: Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
4. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
5. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.
6. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.
7. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
10
8. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.
9. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.
10. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.
11. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.
12. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.
13. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
14. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.
15. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.
16. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
17. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.
18. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.
19. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.
20. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.
21. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
22. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
23. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
24. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.
11
25. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk
konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.
       Majas pertentangan
1. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.
2. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase.
3. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.
4. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
5. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.

C.    Definisi Stres
Stress menurut transactional model dari Lazarus dan Folkman (1984) adalah tergantung secara penuh pada persepsi individu terhadap situasi yang berpotensi mengancam. Penilaian individu terhadap sumber daya yang dimilikinya menentukan bagaimana individumemandang sebuah situasi spesifik sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan atau ancaman yang berbahaya. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa bagaimana individu mempersepsikan situasi yag dihadapinya menentukan bagaimana respon yang dimunculkan individu.

Lazarus dan Folkman (1984) juga mendiskripsikan stress sebagai segala peristiwa/ kejadian baik berupa tuntutan-tuntutan lingkungan maupun tuntutan-tuntutan internal(fisiologis/psikologis) yang menuntut, membebani, atau melebihi kapasitas sumber daya adaptif individu. Dari definisi di atas dapat disimpulkan stress merupakan keadaan dan tuntutan yang melebihi kemampuan dan sumber daya adaptif individu untuk mengatasinya. Sehingga tuntutan dan keadaan (stressor) tersebut menimbulkan ketegangan baik secara fisik maupun psikis.

D.    Faktor Penyebab Stres dan Cara Mengatasinya pada Siswa SMA
12
a.       Tekanan
Tekanan dapat datang dari dalam, seperti cita-cita yang terlalu tinggi yang kita tetapkan untuk diri pribadi. Sedangkan tekanan dari luar dapat datang dari tuntutan orang tua atau orang-orang di sekitar kita Misalnya tekanan dari guru adanya tugas-tugas sekolah yang sangat banyak, kurang istirahat, beban sekolah yang berlebihan Semakin besar tekanan yang dirasakan semakin besar kemungkinan ia menderita stres.

Cara mengatasinya jangan dibuat seperti tertekan, siswa santai saja. Menerima tugas-tugas
dengan sewnang hati, mencari hal-hal yang bias membuat terhibur misalnya menulis puisi.
b.      Problem
Problem dapat  membuat keadaan mental dan emosional terasa sangat letih, mungkin telah menyadari bahwa kini akan sulit mengambil keputusan tentang persoalan itu kalau tidak ada yang membantu. Sehingga kita menjadi bingung dan pusing untuk menentukan penyelesaian dan membuat kita menjadi stress. problem yang dialami siswa seperti problem dengan sang pacar, konflik dengan guru mauapun orang tua.

Cara mengurangi stresnya yaitu mencari bantuan orang terdekat untuk membantu menyelesaiakn problem yang sedang dihadapi. Mungkin tidak dapat ditanggulangi sendiri, kita membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikannya. Harus mempunyai teman untuk membicarakan kesulitan yang sedang dialami, karena hanya dengan cara itu bias membuat problrm terasa ringan. (Weekes, Claire. 1991).
c.       Kesedihan
Kesedihan yang mendalam dapat membuat stress. Kesedihan yang mendalam yang dialami siswa kelas VIII biasanya adalah kehilangan seseorang yang dicintai atau kehilangan kakasih yang sangat disayangi. Seakan merasa hidupnuya hancur merasa sangat menderita memandang hidup itu sempit. Padahal kita tahu dunia tak sesempit  daun kelor. Masih banyak kebahagiaan yang bias diraih daripada harus terpuruk dalam kesediahan.

Cara mengurangi stress akibat kesedihan adalah terimalah kesedihan secara wajar, serahkan pada Tuhan, mantapkan niat untuk memandang kehidupan selanjutnya, carilah kesibukan mungkin dengan cara menulis puisi karena bisa dijadikan teman saat sedih. Bisa dicurahkan kesedihannya
13
dalam bentuk puisi agar menjadi lega.

E.     Akibat dari stres
v  Frustasi
            Frustasi dapat timbul apabila ada hal yang menghalangi kita dengan tujuan yang ingin kita raih, hal-hal ini dapat berasal dari dalam seperti cacat badaniah, sedangkan faktor luar dapat berupa kemalangan Apabila seseorang sudah merasa frustasi maka dapat mencetuskan terjadinya stress, bisa berakibat bunuh diri.
v  Kepribadian tidak stabil
                        Kepribadian menjadi tidak stabil. Pesimis dalam menjalani hidup. Semakin lentur kepribadian seseorang dan semakin tinggi harapan seseorang akan hidup (optimis), semakin jauh dari stres dan semakin ringan stres baginya).


v  Kesehatan terganggu
            Kesehatan terganggu seperti kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion), Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana, Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastrointestinal disorder), Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panic. Itulah akibat stress dibidang kesehatan. Semakin sehat seseorang semakin jarang ia terkena stres, dan sebaliknya stres dan sakit raga merupakan dua kejadian yang saling memberatkan. (Weekes, Claire. 1991).






14
BAB III
METODE PENELITIAN

METODELOGI
Metode yang digunakan penulis adalah melakukan studi kepustakaan. Data didapat dalam bentuk tulisan sehingga penulis harus membaca dan menyimak terlebih dahulu. Kemudian penulis menentukan hal-hal pokok dari sumber yang didapat. Tidak hanya di buku saja, tetapi, penulis juga mencari informasi dari internet.
Pelaksanaan Penelitian
Hari     :  Senin
Tanggal    :  25 Mei 2013
Pukul    :   11.00 WIB
Tempat    :   SMAN 1 GALANG

Populasi
Orang yang akan mengadakan penelitian terlebih dahulu membuat rencana penelitian. Salah satu faktor yang termasuk dalam rencana penelitian tersebut adalah mengenal objek.
Sehubungan dengan pendapat di atas, yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah Siswa Kelas X SMAN 1 Galang sebanyak 168 orang.


TABEL POPULASI
NO. KELAS LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH SISWA
1. X-1 16 27 43
2. X-2 12 28 40
3. X-3 11 30 41
4. X-4 18 22 44
JUMLAH 57 111 168

Sampel
Sampel adalah perwakilan dari populasi. Dari populasi dapat kita ambil beberapa bagian untuk diteliti, yang disebut dengan sampel.
Penulis menentukan sampel penelitian ini dengan cara acak. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 60 orang dengan perincian sebagai berikut.
TABEL SAMPEL

 N0.
KELAS SAMPEL
JUMLAH SAMPEL
JUMLAH SISWA
  Laki-laki Perempuan
1. X-1 8 7 15 43
2. X-2 6 9 15 40
3. X-3 5 10 15 41
4. X-4 18 22 15 41
JUMLAH 37 48 60 165









15
BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS

Hubungan Pembelajaran Menulis Puisi dengan Mengurangi Stres pada Siswa kelas X SMA N 1 GALANG
Hubungan pembelajaran menulis puisi untuk mengatasi sres pada siswa kelas X  adalah dengan membelajarkan siswa menulis puisi secara bebas. Siswa dapat mengungkapkan perasaan kegundahan atau stresnya kedalam tulisan yang dinamakan puisi. Hal ini dikaji dari adanya hubungan antara psikologi dengan sastra yang dinamakan psikologi sastra.

Psikologi sastra adalah yang menyatakan bahwa karya sastra memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Siswa akan menggunakan cipta, rasa, dan karsa dalam berkarya. Psikilogi sastra pun menilai karya sastra sebagai pantulan kejiwaan yang bisa menghibur. Siswa atau pengarang akan menangkap gejala jiwa kemudian diolah kedalam teks yang dilengkapi dengan kejiwaannya yang trproyeksi dalam imajinasi. Kemudian akan tampil larik-larik atau pilihan kata yang khas. Macam-Macam Pendekatan psikologi sastra  :
ü  Beberapa kemungkinan kajian yaitu pertama, pendekatan tekstual mengkaji aspek psikologis tokoh dalam karya sastra. Kedua, Pendekatan reseptif pragmatic mengkaji aspek psikologis pembaca sebagai penikmat karya sastra. Ketiga aspek psikologis sang penulis sebagai proses kreatif yang terproyeksi dalam karyanya.
ü  Kajian Estetika eksperimental yaitu sebagai efek motivasional dar teks sastra pada penerimanya. Efek ini akan tampak melalui aspek kolatif sebuah srimulus yang nuncul dari teks sastra. Bagian teks yang dapat membangkitkan perasaan.


Pembelajaran Menulis Puisi untuk Mengurangi Stres pada Siswa kelas X SMA N 1 GALANG
Pembelajaran menulis puisi untuk mengurangi stress yaitu mengajarkan puisi bebas atau yang lebih dikenal sebagai puisi modern yang dipelopori oleh Chairil Anwar. Puisi modern dilahirkan dalam semangat mencari kebebasan pengucapan pribadi. Puisi modern dapat dianggap sebagai bentuk pengucapan puisi yang tidak menginginkan pola-pola estetika yang kaku atau patokan-
16
patokan yang membelenggu kebebasan jiwa penyair.
Lewat pembelajaran menulis puisi memiliki fungsi membantu siswa untuk meluapkan semua perasaan hati, menyampaikan stresnya lewat tulisan, siswa menjadi lega. Sebagai penyemangat di kala sedih, inspirasi kita pula, sebagai kenangan, membuat hati dan otak menjadi refresh untuk jalani langkah selanjutnya. Sehingga dapat mengurangi stress pada siswa.

Dengan pembelajaran menulis puisi dapat mengurangi stres pada siswa karena dengan menulis puisi pada siswa kelas X SMA N 1 GALANG bisa mengungkapkan perasaannya dengan bebas. Baik perasaan sedih, sedang ada masalah dan lain-lain. Puisi bisa menjadi teman baiknya. Dengan menulis puisi siswa bisa menjadi lega  Siswa bisa menumpahkan isi hatinya lewat untaian kata, lalu menjadikan senandung yang menentramkan setiap gundahnya sehingga dapat mengurangi stress yang sedang dialami siswa.

Langkah-langkah pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas X SMA N 1 GALANG yang mampu mengurangi stres :
1)      Guru membimbing siswa untuk menulis puisi bebas dengan arahan siswa boleh meluapkan semua perasaan hati , siswa menyampaikan stres yang dialaminya lewat tulisan tanpa memperhatikan prinsip-prinsip dasar menulis puisi.
2)      Guru membiarkan tulisan siswa mengalir dengan sendirinya sehingga siswa menjadi lega karena bisa mengungkapkan stresnya lewat tulisan. Seakan-akan puisi menjadi teman baiknya menjadi teman curhatnya. Sehingga dapat mengurangi stres yang diderita siswa.
3)       Beberapa waktu kemudian barulah puisi tersebut diperbaiki. Puisi tersebut diperbaiki berdasarkan prinsip-prinsip dasar menulis puisi terikat pada diksi, imaji, kata nyata, rima/irama.







17
BAB V
PENUTUP

A.    Simpulan
Pembelajaran menulis puisi pada siswa kelas X SMA N 1 GALANG mampu mengurangi stress yang sedang dialami siswa. Hal ini penulis kaji dari hubungan antara sastra dengan psikologi yang dinamakan dengan psikologi sastra dan dari fungsi sastra yang didalamnya puisi merupakan karya sastra. Psikologi sastra menyatakan bahwa karya sastra memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan. Psikologi sastra pun menilai karya sastra sebagai pantulan kejiwaan yang bisa menghibur. Pengarang akan menangkap gejala jiwa kemudian diolah kedalam teks yang dilengkapi dengan kejiwaannya yang trproyeksi dalam imajinasi. (Suwardi, 2005).
Puisi dipahami bukan hanya berdasarkan makna yang tersurat, melainkan juga berdasarkan makna yang tersirat. Makna yang tersirat dapat ditelusuri berdasarkan konteksnya. Konteks disini berarti segala hal yang ada disekitar teks, termasuk proses pembuatan puisi itu sendiri. Puisi yang menggunakan kata-kata konotatif, relatif lebih sulit dipahami. Pembaca dituntut untuk menafsirkan makna kata-kata serta bentuk-bentuk kalimat-kalimat yang agak lain dari pemakaian biasa.
Selain itu pembelajaran menulis puisi untuk mengurangi stress pada siswa karena lewat menulis puisi memiliki fungsi membantu siswa untuk meluapkan semua perasaan hati, menyampaikan stresnya lewat tulisan, siswa menjadi lega. Sebagai penyemangat di kala sedih, inspirasi kita pula, sebagai kenangan, membuat hati dan otak menjadi refresh untuk jalani langkah selanjutnya. Sehinnga bisa mengurangi stress pada siswa.

B.     Saran
Penulis menyarankan jika ingin menulis puisi jangan terbelenggu oleh bahasa. Janganlah bahasa itu menghambat Anda untuk menulis puisi. Biakan tulisan itu mengalir dengan sendirinya, Ungkapkan semua yang Anda rasakan. Jadikan puisi sebagai teman Anda karena itu bisa mengurangi stres Anda. Barulah setelah puisi itu jadi dan beberapa waktu kemudian bahasa puisi bisa diperbaiki. Selamat menulis puisi karena bisa mengurangi stres!!


18
DAFTAR PUSTAKA

·           Andini, Nirmala dan Aditya Pratama. 2003. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya : Prima Media.
·           Blair, Walter and W.K Chander. 1935. Approaches to Poethry. New Tork ; D. Appleton Centuru Company.
·           Endaswara, Suwardi. 2005. Metode Pengajaran Sastra. Kota Kembang.
·           Harjito. 2007. Melek Sastra Untuk 17 Tahun Keatas. Semarang : Wonodri Krajan III Nomor 964A.
·           Lazarus, R., & Folkman, S. 1984. Stress, Appraisal, And Coping. New York: Springer.
·           Pardjimin. 2004. Bahasa Indonesia Kelas VIII Semester Dua. Bogor : Yudhistira.
·           Tarigan, Henry Guntur. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung : Angkasa.
·           TIM MGMP Kota Semarang. 2004. LKS Bahasa Indonesia. Semarang : Sumber Ilmu.
·           Weekes, Claire. 1991. Mengatasi Stres. Yogyakarta : Kanisius.
·           http://agungpia.multiply.com/journal/item/35/Stress_Kerja_pengertian_dan_pengenalan










19

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar